Selamat Tahun Baru: Hadiah untuk Si Bungsu

Oleh Daud Amarato  |  Profil

Di sebuah kota kecil hiduplah satu keluarga yang rukun dan berkecukupan dalam banyak hal. Sang ayah dalam keluarga ini merupakan seorang pengusaha sukses yang tergolong mapan di kota kecil itu. Saat ini ia memiliki sejumlah harta benda dan uang sebagai hasil jerih lelahnya selama bertahun-tahun. 


Salah satu kebiasaan keluarga ini adalah setiap kali memasuki tahun baru mereka merayakannya dengan acara syukuran keluarga yang sederhana, serta membagi-bagikan hadiah tahun baru dari orang tua kepada tiga orang anak tersayang. Kebiasaan membagikan hadiah tahun baru tersebut sudah dilakukan sejak kelahiran anak pertama sampai sekarang. Pembagian hadiah itu sangat menyenangkan dan paling ditunggu-tunggu oleh tiga orang anak dalam keluarga itu pada setiap momentum tahun baru.


Saat ini anak pertama telah tergolong dewasa dan akan segera menikah. Anak kedua menjelang dewasa dan anak ketiga masih remaja. 


Sebelum memasuki tahun baru, orang tua dalam keluarga ini selalu menyediakan tiga hadiah untuk anak-anaknya. Namun hadiah-hadiah tersebut masih dirahasiakan oleh orang tua. Biasanya hadiah itu baru diketahui pada saat berlangsung perayaan syukuran tahun baru. 


Pada perayaan syukuran tahun baru kali ini, sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.  Sebab kali ini akan dirayakan di sebuah tempat baru, bukan di rumah kediaman saat ini sebagaimana lazimnya dari tahun ke tahun. Hal baru lainnya, orang tua memutuskan bahwa tahun ini adalah tahun terakhir untuk merayakan tahun baru dengan membagi-bagikan hadiah. 


Selanjutnya mulai tahun depan dan seterusnya akan melaksanakan syukuran tahun baru, tetapi tanpa pembagian hadiah lagi. Kedua orang tua dalam keluarga ini ingin mendidik anak-anaknya agar hidup tidak tergantung dengan hadiah dari orang tua serta beberapa pertimbangan lainnya. 


Singkat cerita, ketika tahun baru tiba, kedua orang tua mengajak ketiga anak mereka ke sebuah rumah yang telah disiapkan dengan mengendarai sebuah mobil baru. Mobil keluaran terbaru kala itu. 


Sesampainya di rumah yang baru tersebut, semua makanan dan minuman untuk acara syukuran telah tersedia di ruang makan. Hal yang lebih menarik adalah tampilan rumah baru itu cukup memesona karena selain bentuknya yang asri dan berukuran cukup besar, juga dilengkapi dengan perabot rumah tangga yang tergolong mewah.

  

Pada saat acara syukuran berlangsung, yakni setelah doa dan makan bersama, sang ayah menyampaikan bahwa tahun ini adalah tahun terakhir untuk merayakan tahun baru yang disertai dengan membagikan hadiah. Pada tahun-tahun berikut tidak lagi melakukan pembagian hadiah. Setelah menyampaikan sejumlah alasan mengapa pembagian hadiah berakhir pada tahun ini, ketiga anak itu pun menerima keputusan orang tuanya.


Selanjutnya sang Ayah dan Ibunda tercinta menyampaikan selamat tahun baru kepada anak sulung, seraya menyerah hadiah berupa Rumah Baru nan mewah yang sedang digunakan sebagai tempat acara syukuran tahun baru saat ini. Hal itu ditandai dengan penyerahan sertifikat tanah dan bangunan. 


Berikut kepada anak tengah mendapat hadiah berupa sebuah mobil baru yang tadi digunakan sekeluarga menuju tempat acara syukuran tahun baru ini. Ditandai dengan penyerahan surat kendaraan berupa BPKB dan STNK. 


Melihat hadiah yang diterima oleh kedua kakaknya, si Bungsu berdecak, serta berharap cemas, hadiah apakah gerangan yang akan diperolehnya. Sementara berada dalam keadaan berharap cemas itu, sang Ayah dan Ibunda tercinta pun tiba di depan si Bungsu. Dengan tenang sang Ayah mengeluarkan dari tas, sebuah bungkusan yang tampak biasa saja, karena terbungkus dari kertas koran dan bentuknya menyerupai sebuah buku. Sang Ayah pun tidak menyampaikan apa-apa ketika memberikan hadiah itu kepada si Bungsu. 


Dengan sigap si Bungsu membuka hadiah dalam bungkusan kertas koran itu. Setelah dibuka ternyata hadiah ini berupa sebuah buku yang cukup tebal, yang terdiri dari ratusan halaman. Kejadian ini spontan membuat si Bungsu kaget, kecewa dan langsung bergejolak sebagai wujud protes dari si Bungsu. Ia menuduh orang tuanya telah berlaku tidak adil atasnya. Si Bungsu benar-benar merasa kecewa saat itu.


Seperti umumnya anak-anak remaja dengan kondisi psikologi yang belum matang, ia ungkapkan rasa kecewa dan protesnya dengan cara menangis sejadi-jadinya. Bahkan ia sempat melakukan aksi-aksi yang kurang terpuji. Kedua kakaknya dan Ibunda tercinta pun sedikit kewalahan menenangkan si Bungsu. Menghadapi situasi gejolak si Bungsu itu, Sang Ayah tetap tenang menanti si Bungsu berhenti dari aksi protesnya.


Sesudah melakukan aksi-aksi protesnya, sang Ayang mencoba menghampiri si Bungsu. Namun si Bungsu belum bersedia berdialog dengan sang Ayah. Sikap si Bungsu itu dapat dipahami oleh sang Ayah dan menanti waktu yang tepat untuk memberikan penjelasan kepada si Bungsu.


Setelah si Bungsu tenang dan bersedia berdialog, dengan bijak sang Ayah menjelaskan kepada si Bungsu bahwa buku yang diberikan sebagai hadiah tahun baru itu adalah buku tentang “Kisah dan Rahasia Sukses Sang Ayah”, yang dapat dipakai sebagai referensi agar kelak si Bungsu menjadi lebih sukses dari sang Ayah. Ditambahkan oleh sang Ayah, selain buku itu, si Bungsu juga akan mewarisi rumah kediaman mereka saat ini, serta mobil yang digunakan oleh orang tuanya sehari-hari itu akan diwariskan pula kepadanya. 


Mendengar akan penjelasan sang Ayah, menyesallah si Bungsu. Lalu ia sujud memohon maaf atas kekhilafannya. Si Bungsu baru menyadari bahwa sang Ayah dan Ibunda tercinta sedang memberikan hal yang terbaik baginya. Si Bungsu bukan hanya mendapatkan apa yang dibutuhkannya hari ini, tetapi juga diberikan bekal masa depan yang sangat menjanjikan baginya. Si Bungsu pun menyadari bahwa rumah dan mobil yang diterima oleh kakak-kakaknya akan berakhir pada waktunya, bahkan akan berakhir dengan lebih cepat apabila tidak dirawat dengan baik. Namun bekal pengetahuan yang diperoleh si Bungsu dari buku itu akan bermanfaat sepanjang hayat dikandung badan.     

 

Setelah menjalani masa dewasa, si Bungsu semakin menyadari bahwa ia tidak perlu cemburu atau irihati dengan orang lain, karena suatu harta benda, jabatan atau apapun yang orang lain dapatkan dalam kehidupan ini. Ia tidak mau terkecoh lagi dengan apa yang secara kasat mata terlihat lebih besar dari apa yang ia miliki. Si Bungsu benar-benar menyadari bahwa ada banyak hal invisible (tak terlihat) yang telah ia dapatkan dalam kehidupan ini. Hal invisible itu antara lain pembelajaran kehidupan yang telah membuatnya lebih survive, lebih tegar, lebih sukses bahkan dapat meraih hal yang jauh lebih besar maupun hal-hal tidak terduga sebelumnya.


Si Bungsu memaknai pengalamannya itu, bahwa sesungguhnya tugas manusia adalah “Selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Sang Maha Pencipta”, sambil terus tekun belajar dari buku kehidupan ini. Perilaku mengeluh, protes, cemas, kuatir, dan pesimistik akan semakin memperburuk keadaan. Sesungguhnya bahwa setiap anak manusia niscaya telah diberikan hadiah tahun baru yang terbaik baginya dalam hidup masing-masing. 


Demikian pula dengan kita saat ini, tentu banyak pengalaman sukses maupun gagal sebagai pelajaran kehidupan yang telah mewarnai kehidupan kita pada tahun yang lalu. Kita patut bersyukur atas semua itu. Kita bersyukur dengan cara menjaga dan merawat bahkan tekun meningkatkan kesuksesan yang telah diraih. Sebaliknya kita juga mesti bersyukur atas pengalaman gagal yang telah kita lalui dengan cara menjadikannya sebagai bahan refleksi dan bekal untuk berbenah dan menata masa depan, agar pada tahun yang baru ini kita dapat meraih hal-hal yang lebih baik. Selamat Tahun Baru, tahun penuh berkah untuk kita semua, amin… 

Posting Komentar untuk "Selamat Tahun Baru: Hadiah untuk Si Bungsu"